Di tengah hiruk-pikuk dunia yang
semakin sibuk, manusia sering kali merasa cemas, stres, bahkan kehilangan arah
dalam hidupnya. Kehidupan modern yang menuntut banyak hal dari individu membuat
banyak orang merasa tertekan. Dalam situasi seperti ini, banyak yang mencari
ketenangan melalui berbagai cara, mulai dari meditasi, yoga, hingga terapi
psikologis. Namun, Islam telah menawarkan solusi yang telah terbukti selama
berabad-abad yakni zikir.
Zikir sendiri secara harfiah,
berarti mengingat Allah. Namun, dalam makna yang lebih dalam, zikir adalah
sebuah bentuk hubungan batin antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ia bukan
hanya sekadar menyebut asma Allah dengan lisan, tetapi juga melibatkan
hati dan perbuatan. Ibn Qayyim al-Jawziyah, pernah berkata:
وَلَا شَيْءَ أَنْفَعُ لِلْقَلْبِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَىٰ،
فَإِنَّهُ يُحْيِيهِ وَيُنَوِّرُهُ وَيُقَوِّيهِ وَيُسَرِّهِ وَيُجَلِّيهِ
Tidak ada
sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain zikir kepada Allah Ta’ala,
karena ia menghidupkan, menerangi, menguatkan, menyenangkan, dan menjernihkan
hati." (Madarij al-Salikin, Ibn Qayyim al-Jawziyah)
Dalam dunia psikologi, zikir
memiliki kesamaan dengan teknik mindfulness atau meditasi. Ketika seseorang
berzikir dengan penuh kesadaran, ia akan lebih fokus pada saat ini,
mengesampingkan kecemasan tentang masa depan dan kesedihan tentang masa lalu.
Efek menenangkan dari zikir ini bahkan telah dibuktikan dalam berbagai
penelitian modern. Allah sendiri telah menjelaskan dalam Al-Qur’an:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d:
28)
Dalam dunia medis, stres kronis
diketahui dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dalam tubuh, yang dapat
berujung pada berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, gangguan
pencernaan, bahkan penyakit jantung. Zikir, sebagai bentuk relaksasi spiritual,
dapat membantu menurunkan kadar kortisol ini, sehingga memberikan efek positif
bagi kesehatan fisik dan mental.
Zikir dapat dilakukan dalam berbagai
bentuk, di antaranya: Zikir Lisan (zikr bil-lisan): Mengucapkan
kalimat tauhid seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, yang
dapat memperkuat ikatan spiritual dengan Allah. Zikir Hati (zikr
bil-qalb): Merenungkan kebesaran Allah dalam hati, menyadari keberadaan-Nya
dalam setiap aspek kehidupan. Zikir Perbuatan (zikr bil-jawarih):
Menjalankan setiap aktivitas dengan niat karena Allah, seperti bekerja dengan
ikhlas, membantu orang lain, dan menjauhi perbuatan maksiat. Imam Al-Ghazali
dalam Ihya’ Ulumuddin berkata:
إِنَّ الذِّكْرَ كَالسِّرَاجِ يُضِيءُ لِلْإِنْسَانِ فِي سَبِيلِهِ،
فَكُلَّمَا أَكْثَرَ مِنْهُ كَانَ النُّورُ أَقْوَىٰ
Zikir itu
ibarat pelita yang menerangi jalan seseorang. Semakin banyak ia berzikir,
semakin terang cahaya itu menerangi jalannya." (Ihya’
Ulumuddin, Al-Ghazali)
Zikir tidak harus dilakukan di tempat
ibadah saja. Ia dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Seorang petani bisa
berzikir saat mencangkul, seorang ibu rumah tangga bisa berzikir saat memasak,
seorang pejalan kaki bisa berzikir di tengah perjalanan. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ
Hendaklah
lisanmu selalu basah dengan zikir kepada Allah." (HR. Tirmidzi,
no. 3375)
Ketika zikir menjadi kebiasaan, hati
akan menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan kehidupan akan terasa
lebih bermakna. Dengan selalu mengingat Allah, seseorang tidak akan mudah
terombang-ambing oleh masalah dunia. Ia akan selalu merasa cukup, tidak mudah
marah, dan lebih mampu menghadapi tantangan hidup dengan ketenangan.
Zikir adalah ibadah yang sederhana,
tetapi memiliki dampak yang luar biasa, baik dalam aspek spiritual maupun
psikologis. Ia bukan hanya sekadar ritual, melainkan juga terapi yang dapat
membantu manusia mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan hakiki. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam:
لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُورُ الْيَقِينِ، لَرَأَيْتَ الْآخِرَةَ أَقْرَبَ
إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَسِيرَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدِ
ابْتُلِيَتْ فِي نُورِ الزَّوَالِ
"Jika
cahaya keyakinan telah bersinar dalam hatimu, niscaya engkau akan melihat
akhirat lebih dekat daripada langkah yang engkau ambil menuju ke sana, dan
engkau akan melihat keindahan dunia ini dalam cahaya kefanaan." (Al-Hikam,
Ibnu Atha’illah)
Maka, tidak ada alasan bagi kita
untuk tidak berzikir. Mari kita biasakan mengingat Allah dalam setiap tarikan
napas, agar hidup menjadi lebih tenang, hati lebih damai, dan jiwa lebih
bahagia.
Wallahu a’lam
Bisshawab
Ahmad Fa’izul Mufid,
Penulis merupakan Mahasantri Ma’had Aly Nurul Jadid, dan mahasiswa jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Nurul Jadid, sekarang ia sedang
menjabat sebagai Pimpinan Redaksi majalah Kamal, dan Koran Al-amiri Pos.
Penulis bisa dihubungi melalui instagram : @afsbdis_mufid
Terimakasih 🙏 @siniar.co
BalasHapustulisanmu menarik, tapi menurutku sebaiknya kamu lebih menguraikan pada poin "zikir, sebagai relaksasi spiritual dapat mengurangi kadar kortisol "
BalasHapus