Setiap
tahun pada bulan malam 17 Ramadan, umat Islam di Indonesia bahkan dunia selalu
antusias memperingati peristiwa bersejarah, yakni nuzulul Qur’an dengan beragam
kegiatan. Mulai dari khataman al-Qur’an hingga pengajian umum. Peringatan
tersebut merupakan representasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan
turunnya al-Qur’an di bulan Ramadan dan malam lailatul qadar seperti Q.S
al-Baqarah [2]: 185, Q.S ad-Dukhon [44]: 3, Q.S al-Qadr [97]: 1.
Proses Turunnya Al-Qur’an
Menurut
keterangan, al-Qur’an turun sebanyak dua kali, secara keseluruhan dan
berangsur-angsur. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama' kontemporer,
diantaranya Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi (w. 1419 H), Syekh Ali ash-Shabuni (w.
1442 H). Imam as-Suyu>thi
(w. 911 H) menyebutkan ada tiga pendapat, akan tetapi pendapat yang paling
benar dan mashur adalah al-Quran turun dari lauh mahfudz ke langit
pertama dunia (Baitul Izzah) pada malam lailatul qadar secara keseluruhan
(tahap pertama). Kemudian setelah itu Jibril turun kepada Nabi Saw secara
bertahap guna menjawab pertanyaan dan kondisi masyarakat dalam kurun waktu
20 atau 23 atau 25 tahun (tahap kedua).[1]
Pendapat
di atas, diperkuat oleh riwayat dari Ibn Abbas. Bahwa ‘Atiyyah bin Aswad
bertanya kepadanya dan berkata;”muncul keraguan dalam hatiku tentang firman
Allah Q.S al-Baqarah [2]: 185, Q.S ad-Dukhon [44]: 3, Q.S al-Qadr [97]: 1.
Padahal al-Qur’an juga turun di bulan Syawwal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah,
Muharram, Safar. Ibn Abbas menjawab:”sungguh al-Qur’an turun di bulan Ramadhan
malam lailatul qadar secara keseluruhan, lalu turun secara bertahap sesuai
kondisi”[2]
Cara Penyampaian Malaikat Jibril Kepada Nabi Saw
Ulama'
menyebutkan ada beberapa cara dalam penyampaian wahyu:
a.
Jibril mendatangi Nabi Saw menyerupai bunyi lonceng (inilah cara yang paling
berat). Sebagaimana riwayat musnad Ahmad bahwa Abdullah bin Umar bertanya kepada
Nabi Saw:”apakah engkau merasa mendapat wahyu? Nabi Saw menjawab;”aku
mendengar bunyi lonceng lalu aku diam saat itu. Tiada aku diberi wahyu
melainkan aku menyangka nyawaku akan tercabut.”
b.
Dihujamkannya wahyu ke dalam hati Nabi Saw. Sebagaimana Nabi bersabda;” sesungguhnya
malaikat jibril meniupkan wahyu ke dalam hatiku” (H.R Hakim).
c.
Jibril mendatangi Nabi Saw dalam wujud laki-laki kemudian disampaikannya lah
wahyu.
d.
Jibril mendatangi Nabi Saw dalam keadaan tidur.
e.
Allah berfirman langsung kepada Nabi Saw baik dalam keadaan sadar seperti waktu
malam isra’-mi’raj atau tidur.[3]
Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
Pendapat masyhur dari mayoritas ulama' mengatakan bahwa seluruh kitab suci, suhuf-suhuf selain al-Quran itu diturunkan secara keseluruhan kepada para nabi terkait. Berbeda dengan al-Quran yang pada tahap kedua diturunkan secara berangsur-angsur. Hal ini bertujuan untuk menguatkan hati Nabi Saw, karena wahyu yang turun silih berganti mengatasi problem yang muncul itu lebih kuat dalam memantapkan hati dan perhatiannya terhadap Nabi Saw. Akhirnya, mengantarkan seringnya malaikat jibril turun, perubahan kondisi masyarakat besertaan turunnya dalil.[4]
Tujuan
tersebut berdasarkan firman Allah SWT,
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ٣٢
"Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa
Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami
memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara
tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar)." (Q.S al-Furqan [25]: 32).
Syekh Mutawalli as-Sya’rawi (w. 1419 H)
berpendapat bahwa andaikan al-Qur’an turun sekaligus, niscaya akan ada satu taklif
(tuntutan) saja, padahal problematika umat sangat kompleks?. Beliau menganalogikan
mengapa al-Qur’an turun kepada Nabi Saw secara berangsur-angsur, tidak langsung
utuh ibarat seorang anak yang menginginkan manisan segar. Apakah orang tuanya
mendatangkan banyak manisan tersebut dalam sekali pemberian? Sehingga ia hanya
bahagia saat itu saja, tidak di waktu lain yang bisa jadi menginginkan manisan
lagi?.[5]
Peringatan Nuzulul Qur'an setiap 17
Ramadhan bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi momentum reflektif untuk
memahami bagaimana Al-Qur'an diturunkan dan peran pentingnya dalam kehidupan
umat Islam. Proses turunnya Al-Qur'an yang berlangsung secara bertahap
menunjukkan kebijaksanaan Allah SWT dalam menyesuaikan wahyu dengan kondisi
sosial dan psikologis Nabi Muhammad Saw. Ini mengajarkan bahwa perubahan dan
pembinaan tidak selalu terjadi secara instan, melainkan membutuhkan proses yang
penuh hikmah.
Selain itu, cara penyampaian wahyu
melalui berbagai metode — dari suara seperti lonceng hingga pertemuan langsung
dengan Malaikat Jibril — menegaskan betapa agung dan sakralnya Al-Qur'an
sebagai pedoman hidup. Kehadiran wahyu yang datang bertahap juga memberikan
keteguhan hati kepada Nabi Saw dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah.
Syekh Mutawalli as-Sya'rawi
mengibaratkan turunnya Al-Qur'an secara bertahap seperti memberikan manisan
kepada seorang anak secara berkala, bukan sekaligus. Hal ini menunjukkan bahwa
hikmah besar ada dalam proses yang berkelanjutan. Bukan hanya menanamkan nilai
keimanan yang kuat dalam diri Nabi Muhammad Saw, tetapi juga menegaskan bahwa
setiap perubahan besar membutuhkan kesabaran dan kesinambungan. Ini menjadi
pelajaran berharga bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan
kehidupan.
Oleh karena itu, memperingati Nuzulul Qur'an seharusnya tidak hanya terbatas pada kegiatan seremonial semata, tetapi juga menjadi momentum untuk terus meneguhkan hubungan dengan Al-Qur'an. Dengan memahami sejarah turunnya wahyu dan mengamalkan nilai-nilainya secara konsisten, diharapkan Al-Qur'an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi pedoman dalam menyelesaikan permasalahan hidup.
Wallahu a’lam Bisshawab
Refrensi:
[1] Al-Itqo>n Fi>
Ulu>mil Qur'an, jilid. 1, hlm. 126.
[2] Tafsir Ibn Katsi>r, jilid. 1, hlm.
368.
[3] Al-Itqo>n Fi>
Ulu>mil Qur'an, jilid. 1, hlm. 160-161.
[4] Al-Itqo>n Fi>
Ulu>mil Qur'an, jilid. 1, hlm. 130-131.
[5] Tafsir Sya’rawi, jilid. 2, hlm. 775.